Penulis: idmas

Siapapun pasti setuju kalau saya katakan, Ada Apa Dengan Cinta atau AADC adalah film yang sangat populer dan sukses. Film ini berhasil mendapat banyak penghargaan, dan mengangkat para pemainnya ke jajaran aktris dan aktor film nasional yang hebat. Sang sutradara pernah melontarkan bahwa tidak akan ada sekuel dari film ini. Namun ternyata, bulan April 2016 ini, AADC 2 akan tayang serentak di 3 negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Sinopsis Film Ada Apa Dengan Cinta 2

Kita tahu bahwa adegan terakhir dari AADC adalah saat Cinta melepas kepergian Rangga di bandara. Nah, AADC 2 ini akan menghadirkan pertemuan kembali Rangga dan Cinta setelah berpisah 14 tahun, yang tentu akan menarik untuk dinanti. Para pemain dari AADC 2 ini pun masih akan sama dengan sekuel pertamanya. Ada Nicholas Saputra (Rangga), Dian Sastrowardoyo (Cinta), Sissy Priscillia( Milly),Adinia Wirasti (Karmen), Titi Kamal (Maura), dan Dennis Adhiswara(Mamet). Hanya minus Ladya Cheryl. Dimana aktris pemeran Alya tersebut tidak bisa ikut karena fokus menyelesaikan pendidikanya.

Sepertinya, Miles Film memang ingin membuat para penggemar AADC, ikut menebak sendiri sinopsis AADC 2 ini. Ketika ditanya mengenai hal itu, Mira hanya mengatakan bahwa AADC 2 ini tidak sekedar cerita Rangga pergi ke luar negeri. Ia juga mengatakan bahwa ceritanya bukan lagi kisah remaja seperti seri pertama. Untuk semakin membuat penggemarnya penasaran, Miles Films juga meluncurkan trailer yang mungkin bisa memberikan gambaran, petunjuk seperti apa jalan cerita AADC 2 ini.

Dari trailer itu, saya yakin Anda dapat menebak bagaimana jalan cerita AADC 2 ini. Kita lihat saja nanti di bulan April. Apakah film ini mampu berbicara banyak dan mendulang sukses seperti seri pertamanya ?

Read Full Article

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won – Beberapa hari ini, saya memang tengah keranjingan mengumpulkan foto-foto Lee Yo-won. Wajah polos khas Asia, benar-benar terpancar darinya. Siapa Lee Yo-won ? Saya kira, kalau Anda menggemari drama korea, pasti tahu nama ini. Lee Yo-won adalah aktris top dari Korea Selatan. Namanya mulai dikenal sejak membintangi Blue Mist yang kontroversial, dan drama sejarah Queen Seondeok.

Sebenarnya, Lee telah mulai akting sejak 1999 saat ikut dalam Attack the Gas Station. Tetapi, kemampuan aktingnya baru benar-benar diakui di Blue Mist, yang rilis di tahun 2001.

Lee Yo-won lahir tanggal 9 April 1980. Ia menempuh pendidikan di bidang Theater dan Film di Dankook University. Kemampuannya berkating dapat Anda lihat di drama atau film yang dibintanginya. Wajahnya yang polos, membuatnya sering menerima peran protagonis dan gadis yang baik-baik. Wajahnya juga menyiratkan bahwa ia masih mempertahankan wajah aslinya, jadi Lee Yo-won operasi plastik ? Sepertinya tidak. Kalau operasi pada gigi mungkin iya. Anda dapat melihat sendiri pada foto-foto yang saya unggah dalam galeri foto Lee Yo-won ini.

Lee Yo-won menikah dengan pengusaha dan pemain golf profesional yaitu Park Jin-woo pada tahun 2003. Dari pernikahannya ini, ia dikaruniai 3 orang anak. 2 perempuan dan 1 lelaki.

Menurut berita, tahun ini, ia akan come back untuk mulai lagi akting. Dikabarkan, saat ini, ia tengah dalam proses untuk membintangi drama terbaru. Dalam perannya kali ini, ia seolah ingin memberi bukti, bahwa ia tidak hanya dapat memerankan tokoh polos dan baik hati. Kali ini, ia akan berperan sebagai wanita muda yang pemarah. Kita tunggu saja … 🙂

Akting dengan 3 karakter dapat dijalankannya dengan sangat baik, saat membintangi serial drama 49 Days. Dalam 49 Days, ia berperan sebagai Song Yi-kyung. Di sini, ia beradu akting dengan Jung Il-woo, Bae Soo-bin, Nam Gyu-ri, Jo Hyun-jae, dan Seo Ji-hye. Menurut saya sendiri, 49 Days adalah drama yang sangat bagus ceritanya. Cocok untuk bulan Februari ini.

Berikut Foto-foto Lee Yo-won

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won
49 days drama

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won

Kumpulan Foto-foto Lee Yo-won
di drama Night Light bersama Uee

 

Itu dia kumpulan foto-foto Lee Yo-won. Anda suka ?

Read Full Article

Film biopik “Soekarno: Indonesia Merdeka,” yang pernah menuai kontroversi tajam dan menjadi pusat sengketa hukum, akan kembali tayang di bioskop. Film ini mengangkat kisah perjuangan dan kehidupan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Di balik peluncurannya yang penuh semangat nasionalisme, terdapat riak persoalan hukum yang sempat mencuat ke permukaan.

Pada tanggal 1 November 2013, Rachmawati Soekarnoputri, salah satu putri dari Sang Proklamator, menggugat Multivision Plus (MVP), rumah produksi di balik film ini. Ia merasa tidak dilibatkan secara layak dalam proses produksi, dan menilai bahwa film tersebut menyimpang dari nilai-nilai serta interpretasi pribadi keluarga terhadap perjalanan hidup Bung Karno. Gugatan itu diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan dasar Perbuatan Melawan Hukum (PMH), sebuah langkah hukum yang cukup serius dan menarik perhatian publik serta insan perfilman tanah air.

Sengketa ini berlangsung cukup lama—sekitar tujuh bulan—dan menjadi bahan pemberitaan luas di media nasional. Banyak kalangan menyoroti perdebatan ini dari berbagai sisi: mulai dari persoalan hak intelektual, etika produksi film biografi, hingga sensitivitas sejarah bangsa yang sepatutnya dijaga.

Namun pada akhirnya, pada tanggal 1 Juli 2014, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan untuk menolak seluruh gugatan yang diajukan oleh Rachmawati. Baik gugatan pokok perkara maupun permohonan provisi ditolak dalam amar putusan tersebut. Artinya, dari kacamata hukum, Majelis Hakim tidak melihat adanya pelanggaran yang dilakukan oleh MVP dalam proses pembuatan maupun pendistribusian film “Soekarno.”

Pengacara MVP, David Abraham, menyatakan bahwa keputusan ini menjadi bentuk legitimasi terhadap kreativitas dan kebebasan berekspresi dalam dunia perfilman. Dalam konferensi pers yang digelar di Epicentrum XXI Lounge, Jakarta Selatan, pada 2 Juli 2014, David menyampaikan bahwa tidak ada larangan hukum bagi MVP untuk terus memproduksi, mempromosikan, menyebarkan, dan mendistribusikan film tersebut.

“PT Multivision Pictures tidak dilarang untuk melakukan produksi, promosi, menyebarluaskan, dan mendistribusi film ‘Soekarno’ ataupun tokoh Soekarno,” ujar David saat itu.

Keputusan hukum ini membuka jalan bagi MVP untuk kembali merilis film tersebut ke khalayak. Dalam rangka menyambut dan memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, MVP memutuskan untuk menayangkan kembali “Soekarno” mulai 14 Agustus 2014. Tidak hanya sebagai penayangan ulang, MVP akan menghadirkan versi yang berbeda dari sebelumnya.

David menjelaskan bahwa yang akan ditayangkan adalah “versi panjang” atau *extended cut* dari film tersebut. Versi ini akan menampilkan adegan-adegan tambahan serta narasi yang sebelumnya tidak disertakan dalam pemutaran awal. Harapannya, penonton akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh dan mendalam tentang perjalanan Bung Karno dalam memimpin perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.

Penayangan ulang ini juga dianggap sebagai bentuk refleksi sejarah yang bertepatan dengan momen penting bangsa. Bagi para penonton yang belum sempat menyaksikan film ini saat pertama kali dirilis, kesempatan kali ini menjadi momen ideal untuk menonton ulang dengan perspektif baru. Bagi yang sudah menonton, versi panjang film ini menawarkan pengalaman yang berbeda dengan sudut pandang yang lebih kaya.

Film “Soekarno” bukan hanya merupakan karya sinema, tetapi juga cermin dari kompleksitas sejarah dan interpretasi atas peran seorang tokoh besar bangsa. Perdebatan seputar film ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya sekadar catatan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita memilih untuk menceritakannya hari ini.

Read Full Article

Sinopsis Film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2: Jejak Islam di Benua yang Dingin

Keindahan sebuah kisah seringkali dimulai dari sesuatu yang tak disangka. Begitu pula pengalaman saya mengenal film 99 Cahaya di Langit Eropa. Awalnya, saya bahkan tidak mengetahui bahwa kisah ini pernah diangkat ke layar lebar. Semuanya bermula ketika adik saya memberi sebuah buku dengan judul yang sama. Dengan ekspektasi biasa, saya mengira ini hanya novel remaja bertema cinta dan pencarian jati diri seperti kebanyakan. Namun ternyata, saya keliru.

Prolog buku tersebut langsung menggugah perhatian. Alih-alih narasi ringan, saya justru disuguhkan adegan berlatar Perang Salib. Penggambaran sejarah yang kuat dan cara bertutur penulisnya, Hanum Salsabiela Rais, terasa mengalir dan mudah dipahami. Gaya penceritaan yang cerdas dan penuh empati membuat saya menyelami kisah ini lebih dalam. Tak heran bila kemudian buku ini diangkat menjadi film religi dengan latar Eropa yang jarang kita lihat dari perspektif Islam.

Film pertama 99 Cahaya di Langit Eropa telah menuai banyak pujian karena berhasil membawa penonton menjelajahi jejak peradaban Islam di benua Barat dengan pendekatan personal dan sinematik. Kini, bagian keduanya tengah dipersiapkan dengan antusias, meneruskan kisah perjalanan Hanum dan suaminya, Rangga.

Melanjutkan Jejak Sejarah: Dari Cordoba ke Istanbul

Di akhir film pertama, Hanum (diperankan oleh Acha Septriasa) mengajak Rangga (Abimana Aryasatya) untuk melakukan perjalanan spiritual ke Cordoba, Spanyol. Kota ini dulunya menjadi pusat peradaban Islam di Eropa, dan menyimpan banyak warisan budaya serta arsitektur yang memukau. Salah satu destinasi mereka adalah Mezquita Cathedral, sebuah bangunan ikonik yang dulunya merupakan masjid agung sebelum kemudian diubah menjadi katedral Katolik.

Konflik kultural pun muncul ketika Hanum ditegur petugas karena mencoba menunaikan salat di dalam Mezquita. Peristiwa tersebut menyiratkan ketegangan sejarah yang masih terasa hingga kini. Meski bangunan itu memiliki akar Islam yang kuat, perubahan fungsinya mencerminkan realita sejarah yang kompleks dan berlapis.

Tak berhenti di Spanyol, perjalanan mereka berlanjut ke Istanbul, Turki—sebuah kota yang dikenal sebagai jembatan peradaban Timur dan Barat. Penonton akan kembali disuguhi visual memukau, arsitektur klasik, dan suasana kota yang kaya budaya. Istanbul dalam film ini bukan hanya latar, tetapi juga bagian dari narasi spiritual yang sedang dijelajahi Hanum dan Rangga.

Melebar ke Timur: Mesir dan Mekkah

Uniknya, film ini tidak hanya terbatas pada kota-kota di Eropa. Narasi akan berkembang hingga ke Mesir dan Mekkah, menjadikan perjalanan ini sebagai kisah lintas negara yang penuh makna. Di Mesir, penonton akan diperkenalkan pada kehidupan masyarakat Muslim di negara dengan sejarah kuno, sementara Mekkah menjadi titik puncak perjalanan spiritual mereka.

Film ini disutradarai kembali oleh Guntur Soeharjanto, yang juga sukses menggarap bagian pertamanya. Proses produksi direncanakan dimulai Januari mendatang, dengan sebagian besar pemeran lama yang kembali hadir. Menariknya, karakter Fatin—yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap—akan memiliki peran lebih besar di film kedua. Ini tentu menjadi daya tarik tersendiri, mengingat Fatin dikenal sebagai penyanyi muda berbakat yang punya karisma kuat di layar lebar.

Akhir Kata

99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 bukan sekadar lanjutan dari film religi. Ia adalah jendela untuk melihat Eropa dari kacamata yang berbeda—melalui nilai, sejarah, dan kearifan Islam yang tersembunyi di balik bangunan-bangunan megah dan kota-kota tua. Film ini tidak menggurui, melainkan mengajak penonton bertanya: bagaimana jejak sejarah membentuk identitas kita hari ini?

Kalau kamu belum menontonnya, mungkin ini saat yang tepat untuk memulainya. Siapa tahu kamu menemukan seberkas cahaya baru di langit ceritamu sendiri.

Read Full Article

6 Animator Muda Indonesia di Film Dunia – Seperti kita ketahui bersama, industri animasi di Indonesia memang sedang berkembang pesat. Banyak sekali tayangan berbau animasi yang bisa kita saksikan baik itu di televisi maupun film. Namun, tahukah sobat bahwa para animator Indonesia, ternyata sudah terlebih dahulu berjaya di manca negara ?

Bila sobat belum tahu, berikut 6 Animator Indonesia yang terlibat dalam penggarapan film dunia.

1. Rini Triyani Sugianto

Rini Triyani Sugianto

Sejak lama Rini sudah menggemari karakter Tintin, sang jurnalis petualang karya Herge. Impiannya terwujud ketika Rini terlibat dalam penggarapan film The Adventure of Tintin : Secret of the Unicorn pada 2011. Setelah itu, Rini pun ikut serta dalam produksi The Avengers dan Iron Man 3.

2. Marsha Chikita Fawzi

Marsha Chikita Fawzi

Kita mungkin mengenalnya sebagai putri pasangan Ikang Fawzi-Marissa Haque. Pada 2010, Marsha menjadi animator di rumah produksi Las Copaque (Malaysia) dan ikut dalam pembuatan serial Upin & Ipin. Kini Marsha kembali ke Indonesia dan mendirikan studio animasi sendiri bernama Monso House.

3. Ronny Gani

Ronny Gani

Ronny saat ini bekerja di Industrial Light and Magic (ILM), salah satu divisi dari Lucasfilm. Pria berusia 30 tahun ini terlibat dalam produksi animasi dan efek khusus di sejumlah film seperti Star Wars : The Clone Wars, The Avengers, dan Pacific Rim.

4. Griselda Sastrawinata

Griselda Sastrawinata

Lulusan Art Center College of Design di Pasadena (Amerika Serikat) ini bekerja di studio animasi yang didirikan Steven Spielberg, Dreamworks Studio. Shrek adalah film yang ikut digarapnya.

5. Michael Reynold Tagore

Michael Reynold Tagore

Pria asal Surabaya ini bekerja di WETA Digital, Selandia Baru. Studio ini turut dalam penggarapan film-film tenar seperti The Hobbit : An Unexpected Journey dan Iron Man 3. Dalam film-film itulah Michael terlibat sebagai desainer tekstur kostum.

6. Andre Surya

Andre Surya

Pria 29 tahun ini adalah jebolan sekolah film di Kanada dan terobsesi dengan animasi sejak kecil lantaran suka menonton film dan main game. Dia adalah satu-satunya orang Indonesia di Industrial Light and Magic (ILM), salah satu divisi milik Lucasfilm yang berlokasi di Singapura.

Lucasfilm adalah rumah produksi yang didirikan George Lucas, sang sutradara Star Wars. Lepas dari ILM, Andre pulang ke tanah air dan mendirikan Enspire Studio dan sekolah animasi yang bernama Enspire School of Digital Art.

Melalui Enspire Studio, Andre mendapatkan berbagai penghargaan film internasional untuk film pendek berjudul The Escape. Malah penonton The Escape sudah tembus 12 juta orang. Saat ini Enspire sedang menggarap dua proyek rahasia.

Meski terbilang sukses, masih ada obsesi Andre yang belum tercapai. Dia ingin terlibat dalam proyek sutradara kondang James Cameron yang sukses dengan film Avatar. “Secara teknologi, film itu paling oke. Suatu hari nanti saya ingin bisa terlibat dalam proyeknya James Cameron,” katanya.

Kita doakan agar impiannya bisa menjadi nyata … (sumber)

Read Full Article