Lanjut dengan sinopsis Drama Korea Person Who Gives Happiness Episode 37. Ha-yoon dan Suk-jin kembali ke kediaman Ms. Park. Saat makan bersama, Ms-Park melihat kalung yang dikenakan oleh Ha-yoon. Ha-yoon mengatakan bahwa Ja-kyung yang telah memberikannya. Ms. Park terkejut bahwa Ja-kyung telah memberi tahu bahwa dia ibunya. Saat itu Ha-yoon berkata kepada ayahnya bahwa ibu aslinya adalah Eun-hee namun ayahnya mengatakan untuk melupakannya. Namun Mi-sook marah dia mengatakan kepada Ha-yoon bahwa Eun-hee ibu yang baik tetapi Ja-kyung ibu kandungnya.
Suk-jin berbicara dengan Ms. Park dan Mi-sook. Suk-jin meminta kepada ibunya untuk mempercepat pernikahan dirinya dengan Ja-kyung. Sementara di dalam kamar Ha-yoon berbicara dengan Yu-ri bahwa dia ingin bertemu dengan Eun-hee dan bibinya namun Yu-ri mengatakan itu tidak bisa sebab akan menjadi masalah. Ha-yoon menangis segera Suk-jin datang menenangkan Ha-yoon.
Gun-woo menemui Eun-hee dengan mengatakan bahwa dia memiliki pengacara dan ini akan menjadi pertempuran panjang. Mereka kemudian makan bersama dengan Myung-hun, Pak Kang dan Bibi Jo. Mereka menguatkan Eun-hee. Saat itu Myung-sun mendapat kabar dari Kwang-soo bahwa Ha-yoon kembali ke tempat Ms. Park. Segera Myung-sun memberi tahu Eun-hee. Eun-hee lalu meyakini Ha-yoon akan baik-baik saja disana.
Ms. Park panic sebab Ha-yoon sakit segera dia menyiapkan kompres untuknya. Ha-yoon dalam keadaan sakitnya terus memanggil ibunya. Sementara Eun-hee terus memandangi foto saat dia bersama dengan Ha-yoon. Esok harinya di kediaman Ibu Ja-kyung, mereka sibuk melihat komentar baik untuk Ja-kyun oleh netizen dan menganggap buruk Eun-hee sebagai penculik anak.
Suk-jin menghubungi Ja-kyung dan Ja-kyung mengatakan selamat ulang tahun kepada Suk-jin dan mereka merasa senang dengan komentar yang baik hubungan mereka. Suk-jin mengatakan bahwa dia mencintianya dan Ja-kyung mengatakan sebaliknya. Suk-jin memberi tahu bahwa Ha-yoon sakit namun dia sudah baikan. Ja-kyung dan ibunya berencana untuk memberikan hadiah kepada Suk-jin.
Suatu ketika, saat Ms. Park, Ha-yoon, Suk-jin dan Ja-kyung merayakan ulang tahun, Ha-yoon meminta untuk keluar dari kamar mandi. Ja-kyung memberikan hadiah kepada Ms. Park dan berterima kasih sebab dia telah mengizinkan dirinya untuk menikahi Suk-jin. Sementara itu Ha-yoon pergi naik taksi dan berkata kepada sopir taksi bahwa dia ingin menemui ibunya (Eun-hee) sambil menangis.
Kita teruskan dengan sinopsis Drama Korea Person Who Gives Happiness Episode 36. Eun-hyee kembali ke panti dan mencurahkan hatinya kepada Gun-woo dan Myung-sun, dia merasa telah dimanfaatkan oleh Ms. Park. Dia pun terus menangis. Sementara di restaurant miliknya, Ms. Park menyaksikan video saat Ibu Ja-kyung meninggalkan Ha-yoon depan pintu. Mi-sook menyadari ibunya memang memiliki video tersebut.
Esok harinya Myung-sun merasa khawatir kepada Eun-hee, dia segera menghubungi Kwang-soo untuk membelikannya bubur dia meminta Kwang-soo membawakannya. Sementara itu Kwang-soo sedang berusaha memberikan makan Ha-yon namun Ha-yon tidak mau makan dia meminta untuk pergi ke ibunya. Segera Suk-jin dating dan berusaha untuk menenangkan Ha-yon.
Saat Kwang-soo tiba, Eun-hee terkejut melihat Kwang-soo dan memberi tahu Myung-hee bahwa Kwang-soo adik dari Ja-kyung. Myung-hee marah kepada Kwang-soo dan segera menanyakan keberadaan Ha-yoon. Kwang-soo menyebutkan bahwa Ha-yoon tidak ingin makan. Segera mereka meminta Kwang-soo untuk segera ke kediamannya. Kwang-soo meminta Eun-hee dan Myung-sun menunggu di luar apartemen dan dia berjanji akan membawa Ha-yon.
Kwang-soo hendak membawa Ha-yon keluar namun dihentikan oleh ibu Ja-kyung. Ini membuat Ha-yon terus menangis dan Suk-jin dan lainnya berusaha untuk membuat Ha-yon tenang. Sementara itu Myung-sun dan Eun-hee yang terus menunggu terus merasa khawatir. Sampai pada akhirnya memutuskan untuk pergi.
Eun-hee menuju ruangan Ms. Park berusaha mencari USB berisikan video saat Ibu Ja-kyung meninggalkan Ha-yon, namun Eun-hee tidak mendapatinya segera Ms. Park datang. Eun-hee tunduk memohon agar Ms. Park mau membantunya tetapi Ms. Park mengatakan dia tidak memiliki video tersebut dan dia menahan diri karena orang tua kandung ingin membesarkannya.
Ms. Park mengalami mimpi buruk, dimana dia bermimpi Eun-hee dan Eun-ah kecil duduk bersama mengatakan bahwa rumahnya adalah punya mereka sebab dibeli dari uang ayah mereka. Segera Ms. Park terbangun dan merasa was-was.
Sementara di kediaman Ja-kyung, Suk-jin bersama Ja-kyung dan ibu Ja-kyung menyaksikan reality Show mengenai percintaan mereka dimana mereka mengatakan bahwa anak mereka telah diambil darinya namun kini menemukannya dan hubungan mereka yang ditentang orang tua mereka namun kini mereka berdua menerimanya.
Ha-yoon berusaha kabur dari rumahnya, ketika itu para wartawan berkumpul di luar pagar berusaha untuk melakukan wawancara namun dihentikan Kwang-soo. Kwang-soo lalu menghubungi Myung-sun seketika itu Eun-hee berbicara dengan Ha-yon dimana Eun-hee menenangkan Ha-yon memintanya untuk bersabar karena mereka pasti akan bersama. Memintanya untuk tetap makan.
Di apartemen Ha-yon terus menangis. Ja-kyung kemudian mengatakan kepada Ha-yon bahwa dia ibunya. Dia telah kehilangannya dan bertemu lagi. Ja-kyung menambahkan bahwa dia tidak bisa memberi tahu karena dia merasa sedih. Suk-jin menegaskan kepada Ha-yon bahwa Ja-kyung ibu kandungnya.
Kita lanjut dengan sinopsis Drama Korea Person Who Gives Happiness Episode 35. Eun-hee ditangkap polisi untuk diinterogasi. Sementara itu Myung-hee marah besar dia menarik Suk-jin dan memarahinya dan memukulnya namun Suk-jin marah meminta untuk tidak ikut campur dalam urusannya. Dia bergegas kediaman Ms. Park mencari Ha-yoon. Namun Ha-yoon tidak ada disana. Saat itu ada Mi-sook sedang bersama Ms. Park.
Myung-sun mengira bahwa Ms. Park yang telah merencanakan ini namun Ms. Park mengelak dan dia menjelaskan bahwa Eun-hee telah dikirim ke polisi karena tuduhan penculikan. Ms. Park terkejut dan kemudian Myung-sun keluar berusaha menghubungi Gun-woo namun tidak diangkat karena dia sedang rapat dengan keluarganya. Ha-yoon dibawa Suk-jin ke kediaman Ja-kyung.
Saat itu Ja-kyung masih tidak percaya bahwa Ha-yoon adalah anaknya namun Suk-jin menenangkannya dan meminta mereka untuk hidup bersama dengan Ha-yoon. Ms. Park dan Mi-sook bertemu dengan Suk-jin menanyakan keberadaan Ha-yoon namun Suk-jin membiarkan ibunya meraih Ha-yoon dan dia meminta ibunya untuk berhenti mengganggu dan mengancam ibunya jika dia menganggunya maka dia bersama Ja-kyung dan Ha-yoon akan lenyap ke tempat lain.
Eun-hee diinterogasi oleh polisi dan Eun-hee membuktikan bahwa dia adalah Ibu Ha-yoon untuk melihat fakta fakta selama Eun-hee hidup bersama dengan_Ha-yoon. Polisi mulai berfikir ulang dan akan ditelusuri mengenai ini, Eun-hee diminta boleh meninggalkan tempat. Saat itu Myung-sun hadir di kantor polisi menemani Eun-hee. Gun-woo datang menemui mereka setela mengetahui kabar ini.
Eun-hee menemui Ms. Park menanyakan keberadaan Ha-yoon. Ms. Park menenangkan Eun-hee dia berjanji akan mengembalikan Ha-yoon sebab dia memiliki bukti dimana Ibu Ja-kyung menelantarkan anak tersebut. Namun Eun-hee tetap marah atas perilaku Ms. Park sebab dia menerima pernikahannya namun tidak ingin mendaftarkannya. Eun-he kecewa pada Ms. Park.
Ibu Ja-kyung menemui Ms. Park dia berusaha untuk merayu Ms. Park agar membiarkan mereka hidup bersama dan segera mengungkapkan Ibu Ha-yoon adalah Kim Ja-kyung dan Suk-jin dengan Ja-kyunng saling mencintai. Dia melanjutkan “Apakah kamu ingin Suk-jin dihukum dari pekerjaan, Ja-kyung turun dari drama? kamu ingin Ha-yoon hidup sebagai anak selingkuh?”Ms. Park mulai berfikir.
Di depan kantor polisi Suk-jin berbicara dengan Ha-yoon. Dia meminta Ha-yoon segera berhenti mengadopsi Ha-yoon. Sehingga terjadi perdebatan di antara mereka mengenai hak asuh Ha-yoon. Eun-hee menemui Ms.Park dia mempertanyakan perubahan Ms. Park kali ini.
Eun-hee menanyakan USB mengenai video Ha-yoon saat ditinggalkana. Tetapi Ms. Park mengatakan “kapan saya mengatakan memiliki video tersebut. Kamu delusi usai menderita begitu banyak. Aku memutuskan melakukan apa yang Suk-jin inginkan. Kamu harus menjalani hidup kamu sendiri sekarang. Berhenti terobsesi dengan Ha-yoon”.
Lanjut dengan sinopsis Drama Korea Person Who Gives Happiness Episode 34. Eun-hee menemui Ms. Park bertanya mengenai kebenaran ini. Eun-hee bertanya apakah benar Ha-yoon merupakan anak dari hubungan Suk-jin dan Ja-kyung tujuh tahun lalu. Ms. Park berbohong bahwa ini tidak benar dan Ibu Ha-yoon telah meninggal. Ms. Park meminta kepada Eun-hee untuk tetap bertahan.
Myung-sun menghubungi Eun-hee dan menanyakan apakah Eun-hee mendaftarkan pernikahan mereka dan meminta Eun-hee untuk mencoba mengeceknya karena ini akan berkaitan dengan hukum nantinya. Eun-hee bergegas menuju departemen pengurusan kartu keluarga. Namun dia terkejut ternyata dalam sertifikat keluarga hanya mendaftarkan namanya sendiri dan nama Ha-yoon telah dipindahkan ke sertifikat keluarga Suk-jin. Petugas mengatakan ini sudah lama dipindahkan. Eun-hee pun menangis.
Eun-hee menemui Suk-jin yang saat itu sedang bersama dengan Ja-kyung. Eun-hee marah besar dan meminta untuk bicara dengan Suk-jin. Eun-hee menanyakan apakah benar berita ini dan Suk-jin meminta maaf. Eun-hee berkata “mengapa kamu menikahiku?” Suk-jin berkata “Karena Ha-yoon” Eun-hee berucap “jika kamu menyukai Ja-kyung mengapa tidak menikah dengannya” Suk-jin lalu mengatakan bahwa Ja-kyung adalah Ibu Ha-yoon. Ini membuat Eun-hee menyadari selama ini Ms.Park telah berbohong kepadanya.
Eun-hee berkata “Kamu mengerikan. Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku. Kamu membuatku jijik”. Suk-jin meminta maaf dan mengatakan kepada Eun-hee untuk membantunya untuk dapat hidup bersama dengan Ha-yoon dan Ja-kyung dan berhenti mengadopsi Ha-yoon. Eun-hee menolak dan berjanji tidak akan membiarkan Ha-yoon jatuh kepadanya. Kejadian ini dilihat oleh Gun-woo dari jauh.
Eun-hyee pergi dan dia menangis di koridor. Segera Gun-woo membawa Eun-hyee diruangannya dan Eun-hee menceritakan semuanya bahwa selama ini dia telah dibohongi. Jung-hoon membuka pintu terkejut melihat Eun-hee. Segera dia menutup pintu. Pada saat itu So-jung hendak masuk membawakan tanaman hias namun dihentikan oleh Jung-hoon untuk tidak masuk dan segera membawa So-jung pergi.
Sementara itu Suk-jin kemudian menemui Ms. Park memberi tahu bahwa dia telah memberi tahu semua pada Eun-hee. Suk-jin mengatakan biarkan dirinya pergi namun Ms. Park mengatakan “lakukan apayang kamu mau dan aku akan melakukan apa yan aku inginkan juga”. Suk-jin meminta USB video saat Ibu Ja-kyung meletakkan bayi di depan pintu namun Ms. Park menolaknya. Selanjutnya Eun-hee menemui Ms. Park dia marah besar dan telah dibohongi selama ini. Dia meminta kebenaran sesungguhnya.
Ms. Park mengatakan “Eun-hee, maafkan saya. Mari kita daftarkan pernikahan sekarang. Ha-yoon adalah putramu” Eun-hee makin marah “Ibu, kamu.. benar-benar tidak memikirkan ku sama sekali. Kamu ingin aku mendaftarkan pernikahan bersamanya, ketika dia mencintai dan ingin menikahi orang lain? bagaimana kamu bisa mengatakan itu kepadaku? Kamu berusaha memikat aku memanfaatkan Ha-yoon lagi. Tolong hentikan. Aku menyukaimu Ibu. Aku tidak peduli apa kata orang. Kamu tinggal bersamaku dan Eun-ah ketika kami dibiarkan menggigil tanpa ayah malam itu. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu sejak itu. 10 dolar yang kamu berikan saat itu terasa seperti seribu dollar. Kamu tidak tahu bagaimana peasaanku, bukan? Kamu menganggapku sebagai seseorang yagn mudah dimanfaatkan, bukan? tidak mungkin itu tidak benar”.
Ms. Park mencoba membujuknya dengan mengatakan akan mengekspos mereka dengan video saat Ibu Ja-kyung meninggalkan Ha-yoon. Namun Eun-hee menolak dia hanya ingin kebenaran dan dia pun segera pergi.
Direktur memutuskan untuk mengeluarkan Suk-jin dari drama ini dan begitu juga dengan Ja-kyung yang akan digantikan. Sementara itu Eun-hee mengambil Ha-yoon dari kantor Mi-sook. Di tempat lain, Ibu Ja-kyung meminta Suk-jin untuk mengambil USB video tersebut. Suk-jin menuju kediaman ibunya mencari USB tersebut berada.
Sementara Eun-hee kembali tempat lamanya bersama Ha-yoon. Saat itu Paman Gun-woo datang. Eun-hee bersama dengan Gun-woo dan Myung-sun berbicara mengenai keadaan ini. Mereka mulai berfikir untuk mengatasi masalah ini. Keesokan harinya, Suk-jin datang bersama dengan polisi dengan menganggap Eun-hee telah menculik Gun-woo.
Terus kita dengan sinopsis Drama Korea Person Who Gives Happiness Episode 33. Gun-woo membawa ke ruangannya yang mengejutkan Eun-hyee. Tidak lama Myung-sun masuk dan terkejut mengetahui bahwa Gun-woo kini menjadi direktur pelaksana MBC. Myung-sun menyadari selama ini Gun-woo telah menipunya. Gun-woo meminta maaf. Eun-hee dan Myung-sun bergegas pergi dia tidak sabar bertemu dengan Myung-hun. Myung-sun menemui pimpinan acara dia terkejut mengetahui Gun-woo direktur pelaksana. Tidak lama Suk-jin dan rekannya masuk segera pimpinan memberi tahu Gun-woo adalah direktur pelaksana yang membuat mereka juga terkejut.
Gun-woo berbicara dengan Jung-hoon di ruangannya. Gun-woo mengancam akan kembali ke gudang jika Jung-hoon tidak ingin menjadi sekretarisnya. Gun-woo lalu meminta Jung-hoon untuk mencari informasi Ja-kyung dengan Suk-jin. Sementara itu dikediaman Ja-kyung, Ibu Ja-kyung bersama dengan Ja-kyung dan Suk-jin melakukan siasat untuk membuat mereka bersatu kembali.
Di kediaman Ms. Park, Suk-jin meninggalkan Eun-hyee dengan membawa barangnya. Eun-hyee mencoba bertanya dan Suk-jin mengatakan nanti dia akan memberitahunya. Ini membuat Eun-hyee menjadi lemah. Kwang-soo yang berada di panti pergi menemui Ibu Ja-kyung setelah ibunya tersebut mengirim foto jam tangan untuknya jika dia kembali. Kwang-soo menemui ibunya dan meminta Kwang-soo untuk tutup mulut sebab besok akan berita yang menghebohkan.
Esok harinya, Jung-hoon memberi tahu Gun-woo bahwa Ja-kyung dan Suk-jin memiliki hubungan tujuh tahun lalu. Jung-hoon melihat trending berita nomor satu pemberitaan mengenai foto perselingkuhan Kim Ja-kyung dan Suk-jin. Gun-woo melihatnya dan terkejut. Sementara itu di kediaman Ja-kyung, Kwang-soo memberi tahu Ibu dan Ja-kyung bahwa pemberitaan perselingkuhan Ja-kyung jadi trending dan Kwang-soo terkejut sebab mereka Nampak tenang. Ibu Ja-kyung mengatakan bahwa dia sudah bilang padanya jika ada berita besar besok pagi.
Myung memberi tahu Mi-sook untuk melihat berita ini dan dia pun terkejut. Sementara itu Ibu Ja-kyung menuju kediaman Ms. Park dan menunjukkan foto tersebut yang membuat tangannya gemetar. Kembali ke Mi-sook dan Myung yang melihat berita ini dan Mi-sook menyadari bahwa Suk-jin dan Jang-kyung membiarkan berita ini. Di lokasi studio, Eun-hee melihat di layar laptop dan terkejut melihat berita ini dan dia pun menjadi shock.
Di kediaman Ms. Park, Ibu Ja-kyung memikirkan pernikahan mereka dan mengatakan kepadanya untuk memberi hadiah pernikahannya apartemen. Hal ini membuat Ms. Park mulai emosi besar dan dia pun mengeluarkan senjata ampuhnya dengan mengancam akan menyebarkan video di mana Ibu Ja-kyung telah melantarkan Ha-yoon saat dia meletakkan bayi tersebut di depan rumahnya. Ini membuat Ibu Ja-kyung ketakutan. Ms. Park mengancam akan menjatuhkan Ja-kyung dengan menyebarkan video ini di berita dan dia meminta untuk mengembalikan Suk-jin dan juga memintanya pergi sejauh mungkin.
Sub-zero Wind adalah film Korea yang dibintangi oleh Kwon Han-Sol, Shin Dong-Mi, Park Jong-Hwan, dan Ok Su-Boon. Film produksi JINJIN Pictures ini ditayangkan tanggal 14 November 2019. Berikut sinopsis dan review film Sub-zero Wind (2019).
This article is also available in English. Read the full review here.
Sinopsis singkat
Ditetapkan selama 7 tahun, Young-Ha (diperankan oleh Kwon Han-Sol) harus berurusan dengan kehidupan keluarganya yang tidak stabil. Dia ditinggalkan pada usia 12 oleh ayahnya dan sekarang harus kembali untuk tinggal bersama ibunya Eun-Suk (diperankan oleh Shin Dong-Mi) dan ayah tiri (diperankan oleh Park Jong-Hwan). Ibunya sibuk dengan karirnya di gereja lokal.
Sementara itu, sepupu Young-Ha dan sahabatnya Mi-Jin (diperankan oleh Ok Su-Boon) harus berurusan dengan keadaannya sendiri yang sulit.
Detail Info
Judul Film: Sub-zero Wind
Alternatif judul: 영하의 바람, Sub Zero Wind , yeong-ha-eui ba-lam
Para pemeran: Kwon Han-sol, Ok Soo-boon, Shin Dong-mi, Park Jong-hwan, Lee Moo-Nyoung, Yun Seo-jeong
Waktu rilis: 14 Nov 2019
Durasi: 1 jam 50 menit.
Rating konten: bisa ditonton oleh remaja usia 13 tahun atau lebih tua
Sutradara : Kim Yu-Ri
Penulis : Kim Yu-Ri
Produser : Shim Hyun-Woo, Son Seung-Woong
Cinematografer : Choi Won-Wook
World Premiere : Oktober 2018 (Busan IFF)
Distributor : JINJIN Pictures
Film Korea Sub-Zero Wind (영하의 바람, 2018) adalah debut penyutradaraan Kim Yu-ri yang memukau dan penuh nuansa emosional.Film ini mengangkat tema keluarga, trauma, dan pencarian identitas di tengah realitas sosial yang keras. Berikut beberapa fakta menarik tentang film ini:
Fakta Menarik tentang Sub-Zero Wind
Tiga Aktor untuk Satu Karakter
Karakter utama, Young-ha, diperankan oleh tiga aktris berbeda pada tiga fase kehidupan: Moon Sang-an (12 tahun), An Jin-hyun (15 tahun), dan Kwon Han-sol (19 tahun). Peralihan ini memberikan kedalaman emosional dan konsistensi dalam narasi yang berkembang.
Kisah yang Terbagi dalam Tiga Bagian
Film ini dibagi menjadi tiga bagian yang menggambarkan perjalanan Young-ha dan sepupunya, Mi-jin, dari masa kanak-kanak hingga dewasa muda. Setiap bagian menggali dinamika keluarga, konflik internal, dan pencarian jati diri mereka.
Sutradara Perempuan yang Mencuri Perhatian
Kim Yu-ri, yang sebelumnya dikenal melalui film pendek pemenang penghargaan, menggunakan pengalaman tersebut untuk menyampaikan cerita yang kuat dan penuh emosi. *Sub-Zero Wind* menjadi debut panjangnya yang sukses. 
Penghargaan Internasional
Film ini meraih Jury Prize di Festival Film Asia Vesoul dan diputar di berbagai festival internasional, termasuk Busan International Film Festival dan New York Asian Film Festival.
Judul yang Bermakna Ganda
Judul Sub-Zero Wind diambil dari novel Korea yang menggambarkan kisah serupa. Dalam bahasa Korea, judul ini juga berarti “Harapan Young-ha”, mencerminkan perjalanan emosional karakter utama.
Sub-Zero Wind adalah potret mendalam tentang keluarga, kehilangan, dan pencarian identitas dalam masyarakat modern. Dengan penyutradaraan yang sensitif dan akting yang kuat, film ini layak ditonton bagi mereka yang menghargai drama realistis dan emosional.
Itu dia Sinopsis & Review Film Korea Sub-zero Wind (2019).
Moonlit Winter adalah film Korea yang dibintangi oleh Kim Hee-Ae dan Kim So-Hye. Film yang didistribusikan oleh Little Big Pictures ini ditayangkan 14 November 2019. Berikut sinopsis dan review film Moonlit Winter.
Yoon-Hee (diperankan oleh Kim Hee-Ae) tinggal bersama putri remajanya, Sae-Bom (diperankan oleh Kim So-Hye). Pada suatu hari di musim dingin, Yoon-Hee menerima surat dari Otaru, Jepang. Sae-Bom secara tidak sengaja membaca surat itu dan belajar tentang cinta pertama ibunya, yang tidak pernah dia bicarakan sebelumnya.
Sembari menyembunyikan fakta bahwa Sae-Bom tahu tentang cinta pertama Yoon-Hee, ibunya, Sae-Bom mengusulkan agar mereka pergi ke Otaru, Jepang bersama. Di sana, ibu dan anak perempuan itu menikmati waktu mereka bersama. Yoon-Hee, percaya bahwa dia mungkin bertemu cinta pertamanya lagi. Ia merasa hatinya berdebar.
Ada banyak film horor yang berusaha menakut-nakuti penonton. Scent of Ghost justru memilih jalan yang berbeda, ia tidak benar-benar ingin membuat penonton takut. Film ini lebih tertarik pada sesuatu yang lebih halus: bagaimana perasaan bisa tertinggal, bahkan setelah seseorang menghilang.
Di permukaan, ini adalah film tentang hantu di sebuah apartemen tua. Tapi semakin jauh ceritanya berjalan, semakin terasa bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar sosok tak kasat mata, melainkan rasa kehilangan yang belum selesai.
Film rilisan 2019 ini memang bukan blockbuster besar, namun justru di situlah daya tariknya. Ia terasa sederhana, tapi menyimpan emosi yang cukup dalam jika diperhatikan dengan saksama.
Sinopsis Singkat: Ketika Seseorang Menghilang Tanpa Penjelasan
Ji-Yeon (Lee El), seorang mahasiswi jurusan musik, menjalani hubungan dengan Dong-Seok (Kang Kyung-Jun), pria yang sebenarnya tulus namun terjebak dalam tekanan keluarga. Rencana Dong-Seok untuk melanjutkan studi ke luar negeri menjadi titik awal keretakan hubungan mereka.
Sehari sebelum keberangkatannya, Dong-Seok menyiapkan lamaran sebagai bentuk kepastian. Tapi Ji-Yeon tidak pernah datang.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada kabar.
Yang tersisa hanya tanda tanya, dan kemudian, rumor.
Dong-Seok mulai mendengar cerita tentang apartemen tempat Ji-Yeon tinggal. Penghuni lain mengaku mencium aroma parfum misterius, mendengar langkah kaki di malam hari, hingga merasakan kehadiran seseorang yang tak terlihat.
Pencarian Dong-Seok terhadap Ji-Yeon perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih aneh… dan lebih emosional dari yang ia bayangkan.
Analisis: Bukan Tentang Hantu, Tapi Tentang Penyesalan
Jika dilihat dari struktur ceritanya, Scent of Ghost sebenarnya tidak dibangun sebagai misteri kompleks. Film ini tidak terlalu fokus pada “apa yang terjadi”, melainkan pada “apa yang dirasakan setelah itu terjadi”.
Konflik utamanya sederhana:
Cinta yang tidak selesai
Keputusan yang datang terlambat
Dan rasa bersalah yang tidak bisa diperbaiki
Dong-Seok bukan karakter yang jahat. Tapi ia juga bukan sosok yang benar-benar hadir ketika dibutuhkan. Tekanan keluarga membuatnya memilih jalan yang “rasional”, sementara hubungan emosionalnya dengan Ji-Yeon perlahan terabaikan.
Di sinilah film ini bekerja dengan cukup efektif, ia tidak menyalahkan siapa pun secara langsung. Sebaliknya, ia menunjukkan bagaimana hubungan bisa runtuh bukan karena satu kesalahan besar, tetapi karena banyak hal kecil yang dibiarkan.
Elemen hantu dalam film ini terasa seperti metafora: sesuatu yang belum selesai, yang terus “tinggal” meski seharusnya sudah pergi.
Insight: Aroma sebagai Simbol Memori dan Kehadiran
Salah satu elemen menarik dari film ini adalah penggunaan “aroma” sebagai tanda kehadiran hantu.
Ini bukan pilihan yang kebetulan.
Aroma adalah salah satu pemicu memori paling kuat. Ia tidak terlihat, tapi bisa langsung membawa seseorang kembali ke masa lalu, ke perasaan yang pernah ada.
Dalam konteks film ini:
Aroma parfum Ji-Yeon menjadi simbol bahwa ia belum benar-benar “hilang”
Ia masih hadir, setidaknya dalam ingatan Dong-Seok
Dan mungkin, dalam rasa bersalah yang belum terselesaikan
Alih-alih menghadirkan hantu yang menakutkan, film ini menghadirkan “jejak emosional” yang lebih subtil. Ini membuat pengalaman menonton terasa berbeda, lebih tenang, tapi juga lebih menyentuh.
Review: Campuran Genre yang Ringan, Tapi Tidak Dangkal
1. Akting yang Menjaga Emosi Tetap Hidup
Lee El memberikan performa yang terasa hangat sekaligus misterius. Karakternya tidak dibuat berlebihan, justru cukup tenang, dan itu membuat kehadirannya terasa lebih “nyata”, bahkan ketika cerita mulai masuk ke ranah supranatural.
Kang Kyung-Jun berhasil membawa sisi manusiawi Dong-Seok: bingung, panik, tapi juga penuh penyesalan. Ia tidak selalu simpatik, tapi cukup relatable.
Karakter pendukung seperti Sung Ji-Ru dan Jeon Su-Kyeong menambahkan elemen komedi yang menjaga film tetap ringan, meski tema utamanya cukup emosional.
2. Cerita Sederhana yang Mengalir Tanpa Beban
Film ini tidak mencoba menjadi rumit. Tidak ada twist besar yang mengejutkan, tidak ada plot berlapis yang membingungkan.
Sebaliknya, alurnya berjalan lurus, dan justru itu kekuatannya.
Durasi 93 menit terasa pas. Tidak terlalu panjang, tidak bertele-tele. Penonton diajak mengikuti perjalanan emosi, bukan sekadar memecahkan misteri.
3. Atmosfer yang Seimbang antara Horor dan Komedi
Visual apartemen tua dengan nuansa gelap tetap memberikan sentuhan horor, tapi tidak pernah benar-benar menekan.
Efek hantunya pun tidak dibuat realistis secara menyeramkan, melainkan sedikit “ringan”, bahkan kadang terasa absurd.
Ini jelas pilihan yang disengaja.
Film ini tidak ingin membuat penonton tegang. Ia ingin penonton merasa… lalu tersenyum kecil di tengah keanehan situasi.
4. Kelebihan dan Kekurangan yang Jelas
Yang berhasil:
Tone ringan yang konsisten
Emosi yang terasa tanpa harus dramatis
Konsep sederhana tapi punya makna
Yang mungkin kurang:
Tidak cukup kuat untuk penggemar horor serius
Beberapa humor slapstick terasa tidak selalu perlu
Konflik terasa terlalu cepat selesai bagi sebagian penonton
Detail Produksi
Judul: Scent of Ghost (Gwishinui Hyanggi)
Sutradara: Lee Joon-Hak
Penulis: Shin Yang-Joon, Lee Joon-Hak
Rilis: 3 Juli 2019
Durasi: 93 menit
Genre: Horror, Romance, Comedy
Produksi: Studio Hook
Daftar Pemain Utama
Kang Kyung-Jun sebagai Dong-Seok
Lee El sebagai Ji-Yeon
Sung Ji-Ru sebagai Seong-Taek
Jeon Su-Kyeong sebagai Hee-Soo
Son Byung-Ho sebagai Shaman
Kim Kyeong-Ryong sebagai Malaikat Kematian
Kombinasi aktor senior dan pendatang baru membuat dinamika film terasa cukup hidup, meski skalanya tidak besar.
Kesimpulan: Film Kecil dengan Rasa yang Tertinggal
Scent of Ghost bukan film yang akan meninggalkan kesan besar karena ketegangan atau plot twist. Tapi ia punya sesuatu yang lebih halus, perasaan yang pelan-pelan tinggal setelah film selesai.
Ini adalah cerita tentang:
kesempatan yang tidak diambil
kata-kata yang tidak sempat diucapkan
dan hubungan yang selesai tanpa benar-benar ditutup
Jika mencari horor yang membuat jantung berdebar, film ini mungkin bukan jawabannya.
Tapi jika ingin tontonan ringan dengan sentuhan emosi yang tenang, Scent of Ghost justru bisa terasa lebih dekat, karena pada akhirnya, yang paling “menghantui” bukanlah hantu… melainkan hal-hal yang tidak pernah sempat diselesaikan.
Black Money adalah film Korea yang dibintangi oleh Cho Jin-Woong, Lee Na-Ra, dan Lee Ha-Nee. Film yang didistribusikan oleh Acemaker Movie Works ini ditayangkan 13 November 2019. Berikut sinopsis dan review film Korea Black Money.
Yang Min-Hyuk (diperankan oleh Cho Jin-Woong) bekerja sebagai jaksa penuntut untuk Kantor Kejaksaan Distrik Seoul. Dia berurusan dengan kasus yang melibatkan Park Soo-Kyung (diperankan oleh Lee Na-Ra), yang menabrak beberapa mobil di jalan bebas hambatan. Beberapa hari kemudian, Park Soo-Kyung ditemukan tewas.
Sebelum kematiannya, pesan teks terakhirnya dikirim ke adik perempuannya. Dia mengklaim bahwa dia mengalami pelecehan seksual oleh Jaksa Yang Min-Hyuk, kemudian memutuskan bunuh diri.
Yang Min-Hyuk berusaha untuk membersihkan namanya. Dengan penyelidikannya, dia segera mengetahui bahwa Park Soo-Kyung dibunuh dan dia juga menjadi saksi penjualan Bank Daehan dengan harga yang luar biasa rendah. Yang Min-Hyuk juga bertemu dengan Kim Na-Ri (diperankan oleh Lee Ha-Nee). Dia bekerja sebagai pengacara untuk Bank Daehan. Kasus korupsi keuangan besar-besaran ada di depan Yang Min-Hyuk.
Ada banyak film kriminal yang berbicara tentang kejahatan. Tapi The Beast (2019) tidak berhenti di situ. Film ini justru terasa lebih tertarik membedah siapa yang mengejar kejahatan, dan sejauh apa mereka bersedia melanggar batas untuk menang.
Disutradarai oleh Lee Jung-Ho, The Beast menghadirkan dua sosok detektif dengan pendekatan yang bertolak belakang. Di permukaan, ini adalah cerita tentang perburuan pembunuh. Namun semakin dalam, film ini berubah menjadi potret suram tentang ambisi, tekanan sistem, dan moralitas yang perlahan terkikis.
Sinopsis Singkat: Dua Detektif, Satu Kasus, dan Banyak Rahasia
Kasus bermula dari penemuan jasad seorang siswi SMA yang dimutilasi secara brutal. Untuk menangani kasus ini, dibentuk dua tim investigasi yang dipimpin oleh Detektif Han-Soo (Lee Sung-Min) dan Detektif Min-Tae (Yoo Jae-Myung).
Han-Soo dikenal sebagai detektif senior yang mengandalkan insting dan pengalaman. Sementara Min-Tae lebih metodis, mengikuti prosedur, dan percaya pada sistem. Perbedaan pendekatan ini sejak awal sudah menciptakan ketegangan.
Dalam proses penyelidikan, Han-Soo mengambil langkah ekstrem: ia menutupi sebuah kasus pembunuhan lain demi mendapatkan petunjuk penting. Keputusan ini menjadi titik awal dari konflik yang lebih besar, bukan hanya soal kasus, tetapi soal integritas.
Di sisi lain, Min-Tae mulai mencurigai ada sesuatu yang tidak beres. Ia mencium adanya manipulasi dan perlahan menyadari bahwa Han-Soo mungkin menyembunyikan lebih dari yang terlihat.
Penyelidikan membawa mereka pada sejumlah tersangka, termasuk jaringan pelaku asing hingga seorang pria tua misterius. Namun semakin dekat mereka pada jawaban, semakin kabur pula batas antara benar dan salah.
Konflik Utama: Ambisi vs Integritas
Yang membuat The Beast terasa berbeda adalah fokusnya pada konflik internal, bukan sekadar “siapa pelakunya”.
Han-Soo bukan tipikal detektif heroik. Ia adalah sosok yang lelah, tertekan, dan sangat ingin menyelesaikan kasus, apa pun caranya. Dalam dunia yang penuh tuntutan hasil cepat, ia memilih jalan pintas. Menutupi kebenaran demi “kebenaran yang lebih besar.”
Di sisi lain, Min-Tae mewakili idealisme. Ia percaya bahwa prosedur ada untuk alasan tertentu. Tapi seiring cerita berjalan, keyakinannya juga diuji. Ketika sistem tidak cukup cepat atau efektif, apakah prinsip masih bisa dipertahankan?
Film ini dengan cerdas mempertemukan dua pandangan tersebut tanpa memberi jawaban hitam-putih. Tidak ada karakter yang sepenuhnya benar atau salah. Yang ada hanyalah pilihan, dan konsekuensinya.
Analisis: Dunia Abu-Abu dalam Sistem Penegakan Hukum
Secara tematis, The Beast berbicara tentang dunia yang tidak lagi hitam dan putih. Film ini mempertanyakan: apakah keadilan masih murni, atau sudah menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan?
Han-Soo adalah representasi dari sistem yang sudah lama berjalan, berpengalaman, tapi juga lelah dan kompromistis. Ia tahu bagaimana “memainkan” sistem, bahkan jika itu berarti melanggarnya.
Sementara Min-Tae adalah wajah baru yang masih percaya pada aturan. Namun realitas yang ia hadapi perlahan menggerus keyakinannya.
Yang menarik, film ini tidak berusaha “menghukum” satu pihak dan memuliakan pihak lain. Sebaliknya, penonton diajak melihat bagaimana tekanan eksternal, media, atasan, waktu, mendorong individu untuk mengambil keputusan yang mungkin tidak akan mereka ambil dalam kondisi normal.
Dengan kata lain, The Beast bukan hanya tentang kriminalitas, tapi tentang sistem yang secara perlahan membentuk, bahkan merusak, manusia di dalamnya.
Insight: Ketika Kebenaran Tidak Lagi Nyaman
Ada satu lapisan menarik yang terasa cukup subtil dalam film ini: ketakutan terhadap kebenaran itu sendiri.
Han-Soo tidak hanya menyembunyikan fakta untuk menyelesaikan kasus. Ia juga, secara tidak langsung, menghindari konsekuensi dari kebenaran yang lebih besar, bahwa mungkin ia sudah terlalu jauh melangkah dan tidak bisa kembali.
Sementara Min-Tae menghadapi dilema berbeda. Ia mencari kebenaran, tapi setiap langkah justru membuatnya semakin dekat pada kenyataan yang tidak nyaman: bahwa orang yang seharusnya ia percaya justru menjadi bagian dari masalah.
Film ini seolah ingin mengatakan bahwa dalam dunia seperti ini, menemukan kebenaran bukanlah akhir dari perjalanan. Justru itu awal dari konflik baru, konflik dengan diri sendiri.
Review: Kuat di Atmosfer, Berat di Emosi
Dari segi eksekusi, The Beast berhasil membangun atmosfer yang gelap dan menekan. Tone film terasa konsisten: dingin, suram, dan penuh ketegangan.
Performa Lee Sung-Min sebagai Han-Soo menjadi salah satu kekuatan utama. Ia mampu menghadirkan karakter yang kompleks, tidak simpatik, tapi tetap manusiawi. Yoo Jae-Myung juga tampil solid sebagai penyeimbang, membawa nuansa idealisme yang perlahan retak.
Namun film ini bukan tanpa kekurangan. Dengan durasi sekitar 130 menit, ritmenya terkadang terasa lambat, terutama di bagian tengah. Beberapa subplot juga terasa kurang digali lebih dalam, sehingga tidak semua elemen cerita terasa maksimal.
Meski begitu, bagi penonton yang menikmati thriller dengan pendekatan karakter-driven, film ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar misteri pembunuhan.
Detail Film The Beast (2019)
Judul: The Beast (Biseuteo / 비스트)
Sutradara: Lee Jung-Ho
Penulis: Lee Jung-Ho, Jung Eui-Mok
Genre: Crime, Thriller
Durasi: 130 menit
Tanggal Rilis: 26 Juni 2019
Distributor: Next Entertainment World
Pemeran Utama:
Lee Sung-Min sebagai Han-Soo
Yoo Jae-Myung sebagai Min-Tae
Jeon Hye-Jin sebagai Choon-Bae
Daniel Choi sebagai Jong-Chan
Kim Ho-Jung sebagai Madame Oh
Kesimpulan: Bukan Tentang Siapa yang Bersalah, Tapi Siapa yang Bertahan
The Beast bukan film yang menawarkan jawaban mudah. Ia tidak berusaha membuat penonton merasa nyaman dengan keadilan yang akhirnya ditegakkan.
Sebaliknya, film ini meninggalkan kesan yang lebih mengganggu: bahwa dalam dunia yang penuh tekanan, batas antara penegak hukum dan pelanggar hukum bisa menjadi sangat tipis.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan lagi “siapa pelakunya,” tetapi “siapa yang masih bisa bertahan tanpa kehilangan dirinya.”
Dan mungkin, itu adalah bentuk horor yang paling nyata.